Stop Stigmatisasi di Tengah Wabah Pandemi

Oleh : Zainal Abidin, S.HI, MH

(Sekjend DPP Aliansi Nusantara)

 

Merebaknya wabah Virus Covid-19 di Indonesia menimbulkan banyak korban berjatuhan. Bahkan, dari hari ke hari jumlah korban terus naik. Hal ini merupakan ancaman yang nyata bagi negara kita, harus diperangi secara bersama-sama.

Virus Covid-19 tergolong virus baru, banyak masyarakat di negara kita belum tahu. Masyarakat lebih cenderung mengedepankan ketakutan, kepanikan dan kecemasan. Mereka bingung dengan berbagai informasi dan berita tentang corona, yang kadang tidak sama, bahkan saling bertolakbelakang. Misalnya, infromasi mengenai jenis virus, sistem penularan, penangkalan, dan lain sebagainya.

Salah satu akibatnya adalah muncul stigmatisasi sosial dan diskriminasi terhadap korban yang terpapar corona dan keluarganya. Termasuk stigmatisasi dan diskriminasi terhadap komunitas tertentu yang dianggap mempunyai hubungan dengan virus ini, misalnya tenaga medis. Ada berita, perawat diusir dari rumah kosnya. Ini seharusnya tidak boleh terjadi.

Dampak negatif yang muncul dari stigma sosial dikhawatirkan bisa meluas. Tidak hanya berpengaruh terhadap mereka yang terpapar corona, namun juga keluarga, teman, dan komunitas. Bahkan, orang yang tidak terinfeksi, tetapi karena berbagi karakter lain dengan kelompok itu, juga dapat menderita akibat stigma tersebut.

Apabila seseorang sudah terkena stigma sosial, maka secara pribadi pasti sudah sangat dirugikan. Sangat sulit menghapus stigma yang terlanjur melekat, bahkan dampak stempel stigma sering berujung pada pengucilan di lingkungannya. Sungguh kasihan.

Jika perilaku stigmatisasi sosial terus dipelihara di masyarakat, bukan tidak mungkin, orang-orang merahasikan atau menyembunyikan sakitnya. Tentu saja, agar tidak didiskriminasi. Hal ini malah justru akan menghambat penanganan dan membuka potensi penyebaran virus. Karena itu, hentikan stigmatisasi dan diskriminasi terhadap orang terpapar wabah Covid-19.

Penghentian stigmatisasi dan diskriminasi harus juga dilakukan kepada para korban yang meninggal karena Covid-19. Korban meninggal bukanlah pelaku kejahatan. Mereka bukan orang yang melakukan tindakan yang mengakibatkan kerugian besar bagi warga (aib sosial) sehingga mendapatkan hukuman sosial. Hal ini tidak boleh terjadi. Apalagi sampai ditolak jasadnya untuk dimakamkan secara layak di mana mereka tinggal semasa hidupnya.

Di beberapa tempat dikabarkan, ada masyarakat menolak jasad korban Covid-19 untuk dimakamkan di pemakaman umum sekitar pemukiman warga. Alasannya, mereka tidak ingin tertular virus dari jasad korban virus covid tersebut.

Padahal, menurut beberapa pakar kesehatan, prosedur pemakaman jenazah Covid-19 yang dilakukan sesuai standar medis, itu tidak akan menimbulkan penularan. Pemerintah juga telah memiliki ketentuan, sesuai standar protokol kesehatan.

Dalam agama Islam diajarkan bagaimana tatacara seorang muslim merawat jenazah. Mulai dari jenazah ditemukan sampai dimakamkan. Islam mengajarkan untuk senantiasa menghormati dan memperlakukan jenazah layaknya menghormati ketika ia masih hidup. Karena, pada dasarnya manusia itu merupakan makhluk yang mulia, makhluk yang berpotensi untuk melakukan kebaikan serta berubah menuju hal yang lebih baik, terlepas dari tabiat manusia atas salah dan khilaf. Sehingga kesempurnaan manusia secara derajat kehormatan melebihi makhluk lain.

Karena itu, penulis yakin bahwa penanganan jenazah korban Covid-19 oleh Tim medis telah dilakukan secara terhormat dan manusiawi, serta dilengkapi dengan standar protokol kesehatan yang berlaku. Sehingga tidak ada celah dan upaya virus untuk berkembang biak. Jadi tidak masyarakat tidak perlu khawatir, apalagi menolak jenazah korban Covid-19.

Dilihat dari sisi kemanusiaan, manusia satu dengan yang lainnya mempunyai naluri empati dan simpati sebagai supporting sytem untuk menuju kebaikan. Di sisi lain, manusia juga mempunyai instrumen hawa nafsu yang selalu mengajak menuju keburukan. Hal itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam diri manusia. Oleh karena itu jika ada manusia yang tidak memiliki rasa simpati dan empati serta kepedulian antar sesama manusia, maka perlu diberikan pemahaman.

Kembali pada soal stigmatisasi terhadap korban wabah covid-19, perilaku ini seharusnya tidak perlu ada di tengah-tengah masyarakat. Terlebih pada situasi seperti sekarang ini, di mana masyarakat perlu bersatu dan bersama-sama, membutuhkan peran semua orang, untuk dapat memerangi laju penyebaran virus.

Lantas apa yang harus dilakukan untuk menghindari upaya stigmatisasi terhadap korban wabah covid-19 ini? Tentunya banyak hal positif yang harus dilakukan. Antara  lain. Pertama, mendukung penuh dan mempercayakan kasus ini kepada tim medis selaku profesi yang mengetahui apa saja yang harus dilakukan dan bagaimana cara menangkalnya. Ini merupakan kasus darurat kesehatan dan kewajiban kita untuk mematuhinya. Kedua, membangun rasa percaya diri dan empati terhadap mereka yang terdampak. Ketiga, saling melakukan upaya praktis dan antisipatif sehingga orang bisa menjaga keselamatan diri dan orang yang mereka cintai.

Sebagai individu yang bermasyarakat hendaknya kita dapat menyikapi suatu permasalahan secara baik dan bijak. Kita harus senantiasa memberikan nuansa sejuk yang menenangkan di tengah-tengah masyarakat. Kita juga idak perlu membentuk narasi yang menyudutkan dan stigma yang merugikan. Karena itu, marilah kita hentikan atau menghindari pernyataan maupun narasi yang memberikan stigma kepada orang atau kelompok tertentu. Semoga wabah Covid-19 segera berlalu. Amin.