Pandemi dan Dampak Terhadap Pendidikan

Opini Oleh: Isna Juita Nurhidayah

Sarjana Pendidikan Fisika dari UIN Walisongo semarang

 

Dewasa ini, Covid-19 memang telah menjadi momok bagi setiap orang, mulai dari kalangan bawah sampai kalangan teratas. Semakin banyaknya penambahan orang yang terjangkit Covid-19, membuat pemerintah membuat berbagai peraturan, guna mencegah dan meminimalisir penyebaran serta penularannya. Salah satunya: Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB).

Banyak sektor yang merasakan imbas dari Covid-19. Salah satunya adalah bidang pendidikan. Sudah hampir tiga bulan, pendidikan, baik secara formal maupun nonformal, dilakukan secara online atau secara daring. Akibatnya, proses pembelajaran kurang maksimal. Hal tersebut dapat dilihat dari proses belajar yang dilakukan oleh peserta didik. Sebagian peserta didik kemungkinan ada yang menjadi malas untuk belajar, dan jika mendapat tugas dari sekolah, mungkin memilih bergantung dan mencari jawaban dari internet dari pada membaca buku. Mungkin juga, mereka yang mengikuti bimbingan belajar atau belajar privat, lebih memilih untuk meminta guru di bimbingan belajar atau guru privat untuk mengerjakan tugas tersebut. Alhasil munculah sifat ketergantungan dalam diri peserta didik. Bagaimana kira-kira kondisi pendidikan ke depan, jika Covid-19 masih belum usai?

New normal untuk pendidikan

Memasuki tahun ajaran baru 2020-2021, pemerintah telah mempersiapkan new normal atau kebiasaan hidup yang baru untuk harus diterapkan oleh setiap orang di masa pandemi ini. Kabarnya, pendidikan akan dilaksanakan seperti semula, namun dengan tetap mematuhi protokol penanganan Covid-19. Yaitu dengan sering mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker, dan juga jaga jarak. Untuk memutuskan sekolah kembali seperti keadaan semula (sebelum Covid-19), pemerintah perlu mengkaji secara matang. Karena hal tersebut bisa jadi malah dapat meningkatkan penyebaran Covid-19.

Hal yang sekiranya perlu diperhatikan dalam penerapan new normal terkait pendidikan adalah sekolah yang hanya memiliki gedung yang terbatas. Jika dalam satu kelas terdapat 35-40 peserta didik, bagaimana cara merealisasikan jaga jarak dalam proses pembelajaran. Secara tidak langsung penerapan jaga jarak dalam pendidikan akan membutuhkan alokasi tempat yang lebih banyak lagi.

Jika seandainya proses pembelajaran diberlakukan dengan sistem shift atau bergelombang (pagi dan sore), maka jaga jarak dalam proses pembelajaran mungkin dapat diterapkan. Namun, yang perlu diperhatikan juga adalah kondisi kesehatan para pendidik. Apalagi pendidik yang usianya lebih dari 35 tahun. Keadaan ini akan memungkinkan terjadinya kondisi pembelajaran tidak efektif dan maksimal. Karena bisa jadi pendidik kelelahan.

Selain itu, untuk menerapkan protokol penanganan Covid-19, terutama dalam hal jaga jarak, proses pendidikan misalnya dapat dilakukan dengan memberlakukan sekolah formal dan sekolah secara daring. Maksudnya, peserta didik dalam satu kelas di bagi menjadi dua bagian. Bagian pertama masuk sekolah selama tiga hari, dan sebagian yang lain melakukan pembelajaran secara daring. Begitu pula untuk hari berikutnya. Bergantian. Namun, sistem seperti ini, juga akan menimbulkan ketidakefektifan dalam belajar. Terutama bagi peserta didik saat mendapatkan jatah belajar secara daring.

Maka dari itu, solusi yang penulis tawarkan dalam penerapan new normal untuk pendidikan adalah proses pembelajaran tetap dilaksanakan di sekolah, seperti kondisi awal. Namun dengan pemendekan waktu belajar. Jika sebelumnya, proses pembelajaran di sekolah berlangsung selama enam jam, maka diperpendek menjadi tiga jam. Dalam artian, setiap jam pelajaran yang normalnya dilakukan selama 45 menit diperpendek menjadi 20-25 menit.  Selanjutnya, pembelajaran dilaksanakan dengan 2 shift. Shif pertama 3 jam, shift kedua 3 jam. Jadi shifnya bukan pagi dan sore. Akan tetapi proses pembelajaran ini juga tetap ditunjang dengan pembelakukan belajar daring. Khususnya untuk mengerjakan tugas.

Dalam proses pembelajaran yang penulis tawarkan, pendidik perlulah memikirkan metode pembelajaran yang tepat untuk diterapkan pada proses pembelajaran yang hanya tiga jam tersebut. Dalam hal ini, metode konvensional seperti ceramah dirasa cocok untuk diterapkan di masa pandemi ini. Sehingga pendidik hanya sebagai pemberi informasi mengenai pelajaran yang sedang diajarkan, sedangkan peserta didik sebagai penerima informasi. Selain itu pendidik memberikan Pekerjaan Rumah (PR) yang harus dikerjakan sendiri dan dikumpulkan lewat daring. Dalam proses pembelajaran ini juga diberlakukan daring. Jadi peserta didik yang kurang faham mengenai pelajaran yang telah diajarkan di sekolah dapat ditanyakan kepada guru secara daring.

Proses pembelajaran ini dirasa efektif oleh penulis. Di samping pendidik yang tidak kelelahan dalam mengajar, juga peserta didik yang tidak dirugikan karena tetap dapat belajar seperti semula. Tentunya juga tetap mematuhi protokol penanganan Covid-19, terkhusus dalam hal jaga jarak.

Memang semua kebijakan yang akan atau telah ditetapkan memiliki dampak positif dan negatif. Namun, sebisa mungkin dipilih dengan dampak negatif yang paling sedikit. Oleh karena itu penulis menawarkan solusi mengenai proses pembelajaran sebagaimana keterangan di atas, dengan harapan dapat menjadi sumbangsih dalam penerapan new normal untuk pendidikan. Akhir kata, semoga Covid-19 ini cepat usai, dan proses pembelajaran dapat kembali seperti keadaan semula. Wa Allahu a’lamu bi ash-Showaab.