Corona Melanda, Dunia Berpuasa

Opini oleh: Isna Juita Nurhidayah

Bulan ramadan adalah bulan suci bagi umat Islam. Bulan yang mulia, penuh berkah, penuh ampunan. Pada bulan ini, umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa atau shaum, sebulan penuh. Ini merupakan salah satu rukun Islam.

Di bulan ramadan ini, pahala ibadah dilipatgandakan. Karenanya, umat Islam berlomba untuk memenuhinya dengan perbagai macam ibadah. Di bulan ini pula, terdapat satu malam istimewa. Malam lailatul qadar, malam seribu kebaikan, malam penuh ampunan.

Secara bahasa, puasa atau shaum memiliki arti menahan. Sedangkan secara istilah, shaum diartikan sebagai ibadah yang dilaksanakan dengan cara menahan diri dari makan, minum, dan apa saja yang dapat membatalkan puasa, dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

Kata kunci puasa adalah “menahan diri”. Beda dengan shalat dan zakat.

Saat kita shalat, kita dunia ada di belakang kita. Urusan duniawi kita tinggalkan sejenak untuk beribadah. Saat kita berzakat, dunia ada di sisi atau genggaman kita. Kita harus keluarkan atau salurkan hak orang lain yang ada pada harta kita.

Sementara itu, saat kita berpuasa, dunia ada di depan mata kita. Kita diminta untuk menahan diri agar tidak melaksanakan hal-hal, termasuk yang bersifat duniawi, yang dapat membatalkan puasa. Makanan halal yang ada di depan mata kita, tidak boleh kita makan. Untuk kemaslahatan kita, agar kewajiban puasa terlaksana dengan baik.

Pendek kata, puasa mengajarkan kita untuk dapat menahan keinginan. Puasa melatih kita untuk dapat mengendalikan nafsu. Jika kita berhasil mengendalikan diri, kita akan lulus latihan.

Yang namanya latihan, tentu harus dipraktikkan, dalam kehidupan sehari-hari kita. Baik di bulan ramadan ini, maupun bulan-bulan lainnya.

Latihan untuk menahan dan mengendalikan diri yang diajarkan puasa itu sangat relevan dipraktikkan dalam konteks kehidupan kita saat ini. Di tengah masa pendemi virus Corona (Covid-19) ini.

Kita harus menahan dan menahan diri untuk keluar rumah, kecuali untuk hal-hal yang penting. Kita harus menahan diri untuk datang ke tempat berkumpulnya orang atau kerumunan. Kita harus menahan diri untuk pulang kampung atau mudik.

Kita berpuasa dalam arti menahan diri dari hal-hal yang dapat membuat diri kita tertular virus Corona. Dunia diwajibkan berpuasa terkait Corona ini.

Sampai kapan kita harus menahan diri? Paling tidak, sampai vaksin Covid-19 ini ditemukan. Sebelum itu terjadi, dunia harus terus berpuasa.

Jika puasa ramadan ini ada ujungnya, yaitu hari raya Idul Fitri, maka kita juga berharap puasa terkait Corona ini juga akan ada hari kemenangannya juga. Ada lebarannya juga.

Saat itulah, kita dapat kembali beraktivitas dan merayakan kemenangan, layaknya merayakan hari raya Idul Fitri. Waallahu a’lamu bi as-Shawab.

Penulis adalah Sarjana Pendidikan Fisika dari UIN Walisongo Semarang.