Kita Perlu Kabar Prioritas, Bukan Info Sampah

Kehadiran teknologi interconnected network (internet) telah mengubah dunia dan peradaban kita. Pelan tapi pasti, teknologi informasi global ini menyeret kita semua masuk ke dunia baru. Dunia maya. Semua orang, dipaksa beradaptasi, agar tetap eksis dan tak tergerus perubahan zaman. Begitu juga dengan berita alias kabar. Dalam bahasa inggris disebut news.

Dulu, newspaper atau surat kabar alias koran, hampir dapat dipastikan dipenuhi dengan kabar-kabar terpenting, yang utama dan yang paling menjadi prioritas untuk disebarkan kepada masyarakat pembaca. Begitu juga dengan ruang-ruang di majalah, tabloid, dll, sama. Isinya informasi (info) yang penting dan terpilih. Paling tidak, itu penting dimuat, menurut redaksi. Alasan utamanya adalah keterbatasan ruang, terbatasnya halaman.

Dulu, berita dapat disebarkan setelah melalui beberapa verifikasi, proses penyuntingan (editing) yang ketat dan bertanggung jawab. Redaksi akan mengecek terlebih dulu, apakah berita yang ditulis sesuai fakta? Apakah isi berita sudah berimbang? Apakah akan menimbulkan kerugian untuk orang lain? Apakah akan menimbulkan hal-hal yang negatif? Dan lain sebagainya. Sehingga berita yang dihasilkan benar-benar akurat, dapat dipercaya. Dapat dijadikan bahan diskusi maupun debat. Surat kabar yang memproduksi berita yang akurat pada akhirnya akan menjadi rujukan dan dipercaya masyarakat.

Dulu, media cetak “yang benar”, tak akan memasang berita yang tak penting, tak bermutu, tak mendidik, apalagi berita palsu atau berita bohong (hoax).

Kini, dunia telah berubah. Media cetak, pelan namun pasti, rontok. Oplah (atau jumlah cetakan yang diedarkan) majalah, koran, tabloid, dll turun drastis. Banyak media cetak yang akhirnya gulung tikar. Ada juga yang sudah mempersiapkan diri dengan baik, dan kini masih eksis dengan versi portal berita online atau daring (dalam jaringan atau terhubung dalam jaringan internet).

Kini, tak ada lagi alasan keterbatasan halaman, keterbasan ruang tulis. Ya, dunia maya menyediakan halaman yang seakan tanpa batas. Bukan hanya untuk tulisan dan foto, namun juga video.

Sekarang, orang juga berlomba membuat portal berita online, atau banyak juga disebut media online. Ada portal berita online yang benar: hanya menampilkan kabar yang terpenting, yang menjadi prioritas untuk diketahui masyarakat, yang mendidik dan mencerahkan.

Sebaliknya, ada juga media online yang mengisi halamannya dengan konten-konten tak penting. Yang diutamakan adalah mendapat banyak “klik”. Banyak dibaca dan dilihat orang. Konten yang dianggap “bagus” adalah yang mendatangkan banyak klik. Tak perlu akurat yang penting cepat. Tak perlu berimbang yang penting tayang dan mendatangkan uang. Pedoman pemberitaan dan kode etik jurnalistik akhirnya banyak dilanggar, hanya demi klik.

Bahkan, ada juga orang yang sengaja membuat website yang “seolah-olah” merupakan portal berita online. Seolah-olah melakukan kerja jurnalistik. Padahal isinya hoax dan provokatif. Motif dan tujuannya bermacam-macam. Ini tindakan yang jahat, tidak bertanggung jawab, dan merusak citra dunia jurnalistik.

Saat ini, masyarakat juga sering dipusingkan oleh banyaknya berita dari berbagai media online yang beredar. Yang seringkali isinya saling bertentangan, padahal membahas satu peristiwa yang sama. Penyebabnya, mungkin saja karena berita-berita itu dibuat dengan buru-buru, tidak memperhatikan akurasi dan keberimbangan. Publik bingung, mana yang benar.

Selanjutnya, yang perlu mendapat perhatian juga adalah “berita” yang diproduksi oleh
warganet alias netizen. Menurut KBBI Daring, warganet berarti warga internet, orang yang aktif menggunakan internet. Secara mandiri warganet dapat menulis dan menyebarkan berbagai informasi, serta mengunggah foto dan video melalui banyak sarana yang tersedia. Antara lain melalui website, blog, dan yang sedang ngetren yaitu melalui media sosial atau medsos (facebook, twitter, youtube, instagram, whatsapp dll).

Banyak warganet yang menulis dan memproduksi konten dengan jujur dan penuh tanggung jawab, sesuai fakta, serta tidak melanggar hukum, etika dan norma. Namun, tidak sedikit kita temukan warganet yang tidak bertanggung jawab, menulis dan memproduksi konten yang tidak sesuai fakta, melanggar etika dan lain sebagainya. Ada yang cuma bercanda, sengaja melakukan provokasi dan niat jahat lainnya.

Masyarakat harus paham tentang ini. Jangan asal membagi (share) atau meneruskan (forward) tulisan, kabar, berita, foto, video, tautan (link) yang sampai di tangan kita, di ponsel pintar (smartphone) kita. Coba cari tahu dulu kebenaran kebenaran dan keakuratannya. Jangan sampai itu hoax. Membaginya, kita akan menjadi korban sekaligus pelaku penyebaran hoax. Cek dulu. Jika tak yakin itu benar, jangan share atau forward. Bahaya.

Walhasil, beginilah wajah dunia maya kita. Coreng-moreng. Ruang-ruang di internet dan medsos, terutama whatsapp dan facebook, dipenuhi oleh informasi, foto video, yang kadang kita sendiri ragu atau bahkan tak tahu ihwal kebenarannya.

Parahnya, konten-konten itu terus menyerbu, sampai ke muka kita. Khususnya, melalui grup-grup yang ada di whatsapp dan facebook. Dari ponsel pintar, komputer dan gawai (gadget) lainnya. Bertubi-tubi, setiap hari. Datang tanpa kita undang.

Ya, dunia maya kita tengah kebanjiran infomasi. Penuh sesak. Banjir tak hanya berisi air. Sampah dan segala rupa yang ada di depannya juga terbawa. Begitu juga, banjir informasi dunia maya tak hanya berisi hal-hal yang berguna. Info dan konten sampah dan segala rupa yang negatif ada juga

Sekali lagi, yang dirugikan adalah masyarakat, warganet, sebagai konsumen dan obyek dari informasi dan konten yang berseliweran itu. Kini, konten-konten sampah itu banyak memenuhi ruang-ruang dunia maya kita.

Sayangnya, kita semua perlu asupan berita, untuk mendapatkan pengetahuan, meningkatkan wawasan. Agar kita selalu dapat menentukan dan mengambil sikap dengan sadar dan benar. Agar kita tidak ketinggalan zaman, lalu tergerus perubahan.

Iya, kita memang perlu pasokan kabar. Bukan sekadar kabar. Harus KABAR yang benar-benar perlu untuk dibaca. Kabar yang perlu menjadi PRIORITAS untuk diketahui. Itulah kabar yang UTAMA, yaitu kabar yang terpenting.

Karena itu media online harus selalu berpegang pada pedoman pemberitaan dan kode etik jurnalistik dalam memproduksi berita dan konten lainnya. Tujuannya agar kerja-kerja jurnalistiknya menghasilkan karya yang akurat, berimbang, tidak merugikan pihak lain serta tidak menimbulkan hal-hal negatif yang dapat mengancam keutuhan bangsa. Pendeknya, media online harus dapat menghasilkan karya yang dapat dipercaya. Sehingga media online tersebut pada akhirnya menjadi TERPERCAYA, menjadi rujukan.

Kami akan berupaya semaksimal mungkin, untuk dapat menghasilkan produk yang bermutu, yang Kaya WACANA. Yaitu, konten yang mendidik dan memberikan pencerahan bagi pembaca, menawarkan ide-ide dan gagasan yang segar, serta menginspirasi.

Bukan hanya itu, media online juga harus bisa menghasilkan produk yang bermutu. Yang KAYA WACANA. Yaitu, konten yang mendidik dan memberikan pencerahan bagi pembacanya, menawarkan ide-ide dan gagasan yang segar dan serta menginspirasi.

(REDAKSI KABAR PRIORITAS)

 

KABAR PRIORITAS

Utama-Terpercaya-Kaya Wacana

Tags: