Willy Aditya: Pancasila Itu Ideologi Hidup, Kita Membuatnya Demikian

 

Sampang, 08/08/2020 – Tantangan terhadap ideologi Pancasila terus dihadapi bangsa Indonesia. Dalam masa Pandemi Covid 19 pun, tantangan yang demikian ini terus bergulir. Keraguan terhadap kebijakan pemerintah dan anggapan bahwa pemerintah lebih mengutamakan kepentingan pengusaha adalah bentuk terkininya.

Berhadapan dengan tantangan jaman, Pancasila menuntut masyarakat untuk terus menggali lebih dalam tradisi yang dimilikinya. Sebagai ideologi yang hidup maka setiap jaman akan memperlihatkan praktek Pancasila sesuai jamannya. Demikian disampaikan Anggota Badan Sosialisasi MPR RI, Willy Aditya, dalam sosialisasi empat pilar bersama tokoh masyarakat kabupaten Sampang.

Dalam kesempatan sosialisasi 4 pilar yang berlangsung di masa Pandemi Covid 19, Willy mengakui praktek ideologi Pancasila menjadi perhatian publik. Mengutamakan Kesehatan atau Ekonomi dalam penanganan Covid 19 bukan semata berkenaan dengan hal teknis, melainkan juga dipandang sebagai implementasi ideologi Pancasila.

“Pancasila itu hidup, karena kita yang menghidupkannya. Soekarno bilang Pancasila adalah nilai yang digali dari tradisi bangsa ini. Maka selama tradisi itu hidup, Pancasila juga akan hidup,” tegasnya.

Lebih jauh dia menjelaskan Pancasila memerlukan kontekstualisasi praktek dengan situasi yang berkembang di dalam berbangsa dan bernegara. Menurutnya setiap jaman akan menghasilkan interpretasi terhadap Pancasila yang mungkin terlihat berbeda antar jamannya.

“Tapi kalau kita sabar menggali lebih dalam, akan kita dapati benang merah bahwa ketuhanan, kemanusiaan, kebersamaan, musyawarah dan keadilan ternyata sama sekali tidak lekang. Nilai-nilai tersebut dipraktekan dengan cara yang sesuai konteksnya” ucapnya.

Willy yang juga merupakan Ketua DPP Partai NasDem menolak anggapan bahwa ada pertentangan antara Pancasila dengan nilai-nilai keagamaan seperti Islam. Menurutnya anggapan yang demikian justru hanya akan memperuncing perbedaan hingga menjadi pertentangan yang tidak produktif. Dia menegaskan, politik identitas yang berlangsung dalam kontestasi politik dalam 10 tahun terakhir memang dirasakan berlebihan. Namun demikian hal tersebut tidak dapat menjadi dasar anggapan pertentangan Pancasila dengan Islam.

“Politik identitas yang kemarin-kemarin berlaku, memang membuat seolah ada pertentangan. Kita tidak masalah dengan kedekatan identitas yang digunakan untuk memepengaruhi pemilih dalam politik. Namun jika hal ini terus diagungkan, justru akan membuat masyarakat makin tersekat dan ini sangat ditolak oleh nilai Pancasila. Pancasila mengakui dan menghargai perbedaan. Tapi bukan untuk saling menyerang,” tutupnya.(KP02)

Tags: