Pancasila Sebagai Pertahanan Perlu Implementasi Proyek Kebangsaan

 

Sampang, 19 November 2020. Pemerintah memutuskan untuk tetap melanjutkan proses pemilihan kepala daerah disaat pandemi covid 19 masih berlangsung. Hal ini menjadi tantangan tambahan disaat penguatan politik identitas masih menjadi idola politik kekuasaan. Harapan akan adanya program-program penanganan covid-19 dari para calon kepala daerah akan bersaing ketat dengan kampanye yang mengedepankan nilai-nilai kesukuan, ras, agama bahkan antar golongan.

Hal ini sampaikan Anggota MPR RI, Willy Aditya dalam kesempatan Dengar Pendapat Masyarakat MPR RI di Sampang. Menurutnya, problem politik identitas juga terjadi di banyak negara. Namun dia juga menegaskan bahwa tantangan saat ini bukan berarti Indonesia harus mengucilkan diri dan mengeksklusifkan pergaulannya.

“Kita perlu menjabarkan Pancasila dalam proyek-proyek kebangsaan. Nasionalisme kita bukan dibangun atas chauvinisme. Karena itu kita perlu menemukan kembali benang-benang yang merajut kebangsaan ini,” ucapnya.

Dalam pandangan politisi Partai NasDem ini proyek-proyek kebangsaan Indonesia telah lama ditinggalkan dan dianggap angin lalu. Menurutnya Indonesia terlalu fokus pada pembangunan ekonomi dan infrastruktur. Namun pada sisi lain pembangunan karakter bangsa terlihat terabaikan.

“Pertahanan nasional itu bukan hanya militer yang kuat dengan peralatan tempur yang super canggih. Dia harus didukung dengan kerapatan kebangsaan. Warga harus distimuli untuk bangga dengan kondisi bangsanya sehingga mereka berjibaku untuk mempertahankan negaranya,” katanya.

Willy yang juga menjabat ketua DPP Partai NasDem mengungkapkan, proyek-proyek kebangsaan tampak terbengkalai karena adanya salah anggapan bahwa persatuan Indonesia akan berdiri tegak begitu saja.

“kita bisa lihat, bagaimana film-film kita diproduksi. Kita juga lihat bagaimana pendidikan karakter bangsa dilaksanakan di institusi-institusi pendidikan. Pemerintah sejak reformasi abai terhadap pentingnya menanamkan kebangsaan lewat produk-produk budaya. Ini soft power pertahanan negara yang harus kita kerjakan bersama,” tegasnya.

Willy menyangkan jika masih ada politisi yang memanfaatkan perbedaan dan mempertajamnya demi keuntungan politik kekuasaan semata. Menurutnya politik dalam wajah kekuasaan yang demikian akan lambat laun berdampak pada enggannya warga terlibat dalam politik sebagai perjuangan nilai kebangsaan dan kemanusiaan. Dulu hal ini dilakukan oleh Orde Baru dengan paksaan, namun kini hal tersebut justru dilakkan dengan kesadaran semu kekuasaan.

“Kita harus memulai proyek kebangsaan. Menemukan kembali perekat-perekat kita sebagai bangsa. Disitulah Pancasila mendapat ruang aplikatifnya,” tegasnya. (KP02)

Tags: