Buku Baru: Problematika Komunikasi Pandemi Covid-19

Review Buku

Judul Buku: Problematika Komunikasi Pandemi Covid-19 (Kepastian, Kebenaran, dan Harapan Informasi Di Tengah Keberlimpahan Informasi Covid-19)
Penulis: Andi Andrianto, M.I.Kom
Penerbit: Pentas Grafika
Tahun Terbit: September, 2020
Tebal: viii+171 Halaman

Sejak Presiden Jokowi mengumumkan dua warga negara Indonesia positif corona virus disease (Covid-19) pada 2 Maret 2020, informasi corona meningkat tajam. Meski diketahui publik bahwa virus corona dimulai dari Wuhan Cina pada Desember 2019, namun karena akhirnya Indonesia juga terpapar corona dengan ditemukannya kasus positif seorang ibu berusia 64 tahun dan putrinya 31 tahun di Depok, tak ayal banjir informasi corona menghiasi media massa maupun media sosial di Indonesia.

Derasnya arus informasi pandemi Covid-19 di era yang disebut John Keane sebagai keberlimpahan komunikasi memunculkan banyak peristiwa komunikasi yang menarik perhatian publik. Berbagai informasi pandemi yang beredar luas di masyarakat tersebut ada yang benar namun tidak sedikit yang faktanya diragukan bahkan bersifat hoaks sehingga makin membuat publik panik bahkan cemas dan menciptakan ketidakpastian atau uncertainty.

Claude Shannon dan Warren Weaver dalam buku The Mathematical Theory of Communication (1949) situasi seperti saat ini disebut dengan entropi yakni keacakan atau ketidakpastian komunikasi. Informasi tentang berapa jumlah yang positif maupun yang meninggal setiap harinya karena corona yang sulit dipastikan merupakan contoh entropi. Belum ditemukan vaksin corona juga mendorong situasi entropi. Banyaknya hoaks corona yang terus bertambah makin memperparah ketidakpastian akibat corona. Belum lagi kebijakan pemerintah yang dirasakan publik kurang optimal serta kurang pedulinya masyarakat terhadap bahaya corona semakin memperpanjang keadaan yang tidak pasti. Data-data corona yang kurang akurat pun semakin menyumbang ketidakpastian.

Dalam situasi entropi, masyarakat membutuhkan yang disebut Shannon dan Weaver tentang redudansi, di mana sesuatu itu bisa diramalkan atau prediksikan bahkan dapat dipastikan kebenarannya, tentu dengan berbasis pada analisa menyeluruh berdasarkan pada data atau riset yang kuat

Konsep redudansi berkaitan dengan kebutuhan informasi yang pasti, informasi yang benar, fakta yang benar-benar dipercaya, dan informasi yang memberi harapan serta optimisme di tengah pandemi.

Buku ini merekam sekaligus memberi solusi terhadap berbagai peristiwa komunikasi yang terjadi dalam masa pandemi baik yang menciptakan entropi maupun redudansi. Berbagai peristiwa komunikasi itu diantaranya; banjir informasi pandemi, hoaks, blunder komunikasi otoritas, stigma Covid-19, peran regulator penyiaran, urgensi keberadaan media arus utama, media sosial di tengah pandemi, manajemen isu, komunikasi krisis dan komunikasi resiko serta orkestra dan kepemimpinan komunikasi—menjadi topik utama diulas buku setebal 171 halaman.

Selain itu ada urgensi melalui buku ini ingin menjadikan komunikasi bukan sekadar berperan di pinggiran selama masa pandemi melainkan sama utamanya dengan penanganan kesehatannya itu sendiri. Dengan perkataan lain, buku ini ingin mendudukan peran strategis komunikasi dalam penanggulangan pandemi di era masyarakat informasi.

Orkestra dan Kepemimpinan Komunikasi
Tanpa mengecilkan peran bidang lain, penulis meyakini aspek komunikasi memainkan peran fundamental dalam mengatasi pandemi Covid-19 sebab corona bukan hanya soal kesehatan melainkan peristiwa komunikasi yang tersebar secara global yang memiliki dampak luas dalam kehidupan masyarakat termasuk di Indonesia.

Dalam pada itu peran strategis komunikasi dapat dikelola secara lebih baik dan efektif karena aspek komunikasi yang positif diharapkan publik mampu mengedukasi masyarakat tidak hanya pada tingkatan pengetahuan tetapi juga mempengaruhi sikap masyarakat sehingga menjadi tuntunan, jembatan atas berbagai kendala dalam mengatasi pandemi Covid-19 dan bahkan memecah ragam persoalan Covid-19 seperti perbedaan pandangan pemangku kebijakan penanganan pandemi, kepanikan publik atas eksposure informasi yang tinggi, miskomunikasi, disinformasi, hoaxs, stigma, blunder komunikasi otoritas, ketidakpastian informasi, kebenaran informasi, dan kurangnya data yang lebih berkualitas, serta kesan kurang kompaknya antar warga bangsa dalam melawan pandemi Covid-19—ragam problematika (komunikasi) yang terjadi selama pandemi Covid-19 harapannya dapat diselesaikan dengan peran efektif komunikasi yang dijalankan.

Saat ini publik menginginkan ada peran strategis komunikasi yang menselaraskan ragam informasi yang simpang siur serta seringkali mengalami kebuntuan di berbagai tingkatan meskipun banyak juga informasi yang benar.

Dalam situasi krisis seperti sekarang ini publik membutuhkan pihak-pihak yang memainkan dan menjalankan peran komunikasi secara baik dengan tujuan mengharmonikan informasi beragam yang tidak jarang sulit dimengerti masyarakat sehingga membuat miskomunikasi bahkan disinformasi yang ujungnya mengganggu solidaritas sosial yang berupaya dipupuk agar tumbuh subur menghadapi pandemi.
Dalam konteks itu kepemimpinan komunikasi dibutuhkan dalam menanggulangi pandemi.

Penanganan pandemi ini sangat berkaitan dengan kemampuan aspek kepemimpinan komunikasi yang memiliki empati, memahami masalah dengan baik, tahu bagaimana mengeksekusi dan mengkomunikasikan pesan, memiliki visi dan tegas serta mampu melakukan kolaborasi dan tranformasi dalam menghadapi pandemi.

Inilah ujian kepemimpinan untuk menangani pandemi dan publik berharap serta menunggu dengan kepemimpinan yang kuat Indonesia dapat segera keluar dari masa krisis pandemi untuk melompat lebih jauh pasca pandemi. (KP02).

Bagikan kabar ini melalui:

Tags: